 |
 |
|
 |
 |
|
| News /
Bogor Terkini |
|
| 0,9 Persen Masyarakat Indonesia Alami Kebutaan | | By admin |
| Tuesday, 30-November-1999, 00:00:00 |
Klik: 28 |
 |
 |
 |
|
|
| BPB --- Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih mengungkapkan, bahwa salah masalah yang dihadapi masyarakat Indonesia adalah ganguan penglihatan dan kebutaan. Untuk mencegah kebutaan akibat kerusakan pada kornea diperlukan pencakokan kornea mata atau operasi transpalantasi. |
|
|
Menkes mengungkapkan hal tersebut ketika meresmikan Gedung Pusat Pengkajian dan Pengembangan Penyantun Kebutaan (P4K) Bogor, di Jalan dr. Sumeru Kota Bogor, Minggu (21/2).
Peresmian Gedung P4K Bogor disaksikan mantan Presiden BJ Habibie, Ketua Perkumpulan Penyantun Mata Tuna Netra Indonesia (PPMTI)Bank Mata pusat Hasti Ainun Habibie, Walikota Bogor Diani Budiarto, Ketua Perkumpulan PPMTI /Bank Mata Cabang Bogor Hj Fauziah Diani Budiarto, dan hadir pula sejumlah pejabat Depkes dan Pemerintah Kota Bogor.
Menkes Endang Rahayu menyebutkan, bahwa berdasarkan hasil riset Kesehatan Dasar (Riskesda) tahun 2007 diperoleh angka kebutaan sebesar 0,9 persen dengan angka tertinggi di Provinsi Sulawesi Selatan sebesar 2,6 persen dan terendah di Kalimantan Timur sebesar 0,3 persen.
Dijelaskan, untuk kelainan refraksi ditemukan sebanyak 32 persen pada usia sekolah (6-16 tahun) dimana sebanyak 81,9 persen belum mendapatkan koreksi kacamata dan 45,1 persen pada dewasa muda (17-29 tahun) dimana sebanyak 80,2 persen belum mendapatkan koreksi kaca mata.
Berdasarkan Riskesda tersebut, lanjut Endang, bahwa salah satu penyebab kebutaan di Indonesia adalah kelainan kornea yang disebabkan oleh berbagai faktor seperti kelainan bawaan, infeksi, trauma pada kornea dan sebagainnya. Makanya, untuk mencegah kebutaan akibat kerusakan pada korena salah satunya dengan cara pencakokan kornea mata atau operasi transpalantasi, “ ungkap Menkes.
Untuk itu, kata dia, sangat diperlukan calon pendonor kornea mata, namun masih sedikit masyarakat yang ingin mendonorkan kornea mata di Indonesia. Hal ini dimungkinkan karena kurangnya sosialisasi kepada masyarakat. Padahal, mendonorkan kornea mata adalah suatu yang dinilai perbuatan ibadah, walaupun Majlis Ulama Indonesia (MUI) baru menyatakan “boleh” terhadap upaya mendonorkan mata tersebut, “ kata Endang.
Mengenai tingginya angka kebutaan di Provinsi Sulawesi Selatan tempat asal BJ Habibie, Presiden RI ke 3 mengatakan, untuk mengetahui penyebabnya diperlukan riset, “ Jadi, patut diadakan riset apa penyebabnya apakah karena makanan ataupun karena lingkungannya, “ kata Habibie menjawab pertanyaan wartawan.
Oleh karena itu, kata Habibe, untuk menekan angka kebutaan masyarakat Indonesia pemerintah perlu meningkatkan anggarannya termasuk didalamnya anggaran untuk penelitian atau riset. “Kalau pendidikan sudah diatur dalam Undang-Undang Dasar harus 20 persen anggarannya, tapi belum seimbang dengan anggaran penelitian dan lapangan kerja, “ pungkasnya.
Ketua Perkumpulan PPMTI /Bank Mata Cabang Bogor Hj Fauziah Diani Budiarto mengatakan, sebetulnya gedung P4K sudah berdiri sejak tahun 1997, dengan donatur utama Ibu Tien Soeharto, beberapa negara sahabat dan donator-donatur lainnya. Awalnya gedung ini memang akan digunakan sebagai pusat penelitian/pengkajian atau pelatihan terkait kesehatan mata.
Namun, kata Fauziah, dalam perjalanannya Gedung P4K pernah digunakan sebagai tempat rehabilitasi pecandu narkoba. “ Kita berharap berdirinya Gedung P4K sebagai klinik mata oleh PPMTI pusat akan melengkapi pusat layanan kesehatan mata masyarakat di wilayah Kota Bogor dan sekitarnya, “ujar istri walikota Bogor tersebut.
Dalam acara peresmian Gedung P4K dilakukan penyerahan 500 kaca mata gratis kepada siswa SD dari keluarga kurang mampu di Kota Bogor yang diserahkan simbolis oleh Ketua PPMTI/Bank Mata pusat Hasti Ainun Habibie.(iso/tar)
Dikutip dari : www.bogornews.com |
| |
|
|
|
|
 |
 |
| Tamu Web Ini |
Selamat Datang Tamu! Tamu online: 3
Tidak ada member yang Online saat ini.
|
|
 |
|
 |
 |